4 Hikmah Sakit
Diposkan pada 2026-05-06 00:00:00
Sesungguhnya kesehatan adalah nikmat Allah yang agung. Ia adalah mahkota yang tersemat pada diri setiap orang. Tidak terlihat kecuali oleh mereka yang sakit. Oleh sebab itu, betapa sering manusia melalaikan nikmat tersebut dan tidak berupaya untuk menjaga serta mensyukurinya.
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Jika kesehatan begitu berharga, lantas kenapa Allah menurunkan penyakit kepada seorang hamba? Apa hikmah yang bisa diraih dan bagaimana menyikapinya?
Ketika sakit melanda seorang muslim, maka dia meyakini bahwa sakit yang diderita adalah cobaan untuk mengujinya. Apakah dia sabar dan ridha terhadap takdir sehingga kelak menjadi tabungan pahala baginya, atau dia berkeluh kesah dan putus asa dari rahmat Allah?
Oleh sebab itu para ulama menyingkap beberapa hikmah sakit ketika melanda seorang muslim, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, Sakit Adalah Ujian Sebagai Alamat Cinta Allah Kepada Hamba.
Ketahuilah! Bahwa sakit yang Allah berikan kepada seseorang adalah tanda serta alamat kecintaan Allah kepadanya.
إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi)
Kedua, Sakit Dapat Menjadi Penghapus Dosa Seorang Hamba.
Di antara indikasi lain Allah itu cinta kepada seorang hamba adalah Allah menyegerakan balasan keburukan di dunia. Tentunya hal tersebut menjadi kafarat penghapus dosa, sehingga kelak seseorang tersebut menghadap Allah dalam keadaan telah suci dari dosa.
مَا يَزَالُ البَلَاءُ بِالمُؤْمِنِ وَالمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Ujian senantiasa menimpa orang mukmin pada diri, anak dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu kesalahan pun atasnya.” (HR. Tirmidzi)
Ketiga, Sakit Dapat Mengangkat Derajat Seorang Hamba Di Sisi-Nya.
Apabila Allah menguji seorang hamba dengan suatu penyakit maka hendaknya dia sabar serta berbaik sangka kepada-Nya. Sebab ada suatu derajat di akhirat yang disiapkan Allah secara khusus, kedudukan tersebut tidak bisa diraih dengan amalan-amalan, namun hanya bisa dicapai melalui perantara ujian-ujian yang menimpa hamba-Nya.
إِذَا سَبَقَتْ لِلْعَبْدِ مِنَ اللهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ، ابْتَلَاهُ اللهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ، ثُمَّ صَبَّرَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْهُ
“Bila seorang hamba memperoleh kedudukan tinggi disisi Allah dan ia tidak bisa meraihnya dengan amalannya, Allah mengujinya pada diri, harta, atau anaknya kemudian ia bersabar hingga mengantarkannya kepada kedudukan yang diraihnya.” (HR. Ahmad)
Keempat, Sakit Dapat Menyadarkan Hamba Dari Kelalaian Kepada Allah.
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah juga memberikan keterangan bahwa musibah yang melanda seorang muslim, yang dengannya mengantarkan kepada Allah kembali itu lebih baik daripada kenikmatan yang melalaikan dari dzikrullah.
مصيبةٌ تُقْبِلُ بك على الله خيرٌ لك من نعمةٍ تُنْسِيك ذكرَ الله
“Musibah yang menjadikanmu ingat kepada Allah itu lebih baik daripada suatu kenikmatan yang melalaikan kamu dari dzikrullah.” (Jami’ Al-Masail, Ibnu Taimiyyah, 9/387)
|
Kesehatan, Nikmat yang sering terlupakan
Manusia akan meraskan betapa sangat berharganya kesehatan ketika dia sakit |
|
4 Hikmah Sakit
Sakit yang menimpa seorang muslim bukanlah dalil dari kemarahan Allah, bukan siksaan ataupun deraan |
|
Optimalkan Lima Kondisi Sebelum Datang Lima Kondisi
Sebelum datang penyesalan, kita seharusnya mengoptimalkan Lima Kondisi ini |
Komentar Anda